Kumpulan Puisi dan Sajak

Cerita Seorang Pemalas?

Posted on: October 15, 2007

Bulan yang penuh rahmat dan hidayah baru saja lewat, hati kita seharusnya dipenuhi oleh perasaan cinta pada sesama dan bila bisa melakukan lebih, membuat orang lain berdiri di kakinya sendiri. Pemberdayaan umat. Paling tidak ini lah yang di ajarkan ibu sejak saya kecil.

Dan perkataan ibu teringat kembali, ketika seorang bapak yang saya kenal mencerikakan hal kecil yang di alaminya kemarin.

Bapak itu di sapa oleh seorang anggota supir truk. Tinggi besar dengan kemeja yang terbuka dan handuk melingkar di lehernya.

“Bapak Didit ya?. Masih ingat saya pak…..Embong, yang suka bantu bapak waktu saya kecil dulu”

“Masyaallah, mbong. Sudah sukses ya kamu?”, jawab bapak itu senang

“Ibu mu baik, mbong?”….

Dan berlanjutlah pembicaraan tersebut.

Bapak ini bercerita, dulu ada sebuah warung kecil di ujung jalan rumahnya. Warung kecil ini di huni oleh seorang janda dengan anaknya yang masih berumur belasan tahun. Penduduk sekitar selalu menganggap anak itu malas, kerjanya hanya tidur diwarung ibunya.

“Sudah tahu ibunya miskin, ehhhh si mbong itu tidur melulu kerjaannya”, begitu semua orang disekitar itu berkomentar.

Entah kenapa, suatu kali bapak itu mampir melewati warung itu. Dia membeli sebotol air karena kelelahan membawa alat-alat bengkel yang berat dan harus diangkut berjalan kaki menuju rumah orang memanggil dia untuk membetulkan mobilnya. Ya… bapak itu berprofesi sebagai montir panggilan.

“Mbong…mau bantu bapak ?. Bantu angkut rantai-rantai ini, nanti bapak ajari perbaiki mobil dan bapak beri upah tapi nggak bisa besar ya”

Ibu Mbong senang bukan kepalang. Maka mulailah Mbong bekerja. Ketika mengangkut alat-alat bengkel jalannya lambat sekali seolah malas bergerak. Ditempat orang yang memperbaiki mobilpun mbong malas bergerak. Bapak itu agak menyesal mengajak mbong bekerja dengannya. Entah apa yang dipikirkannya tadi hingga menawarkan anak itu bekerja.

Tiba tiba terpikir oleh bapak itu,” Mbong sudah makan?”

Mbong menggeleng lemah. Bapak itu menghentikan pekerjaannya dan mengajak mbong makan. Selesai makan, mbong mulai terlihat berusaha bekerja dan membantu bapak itu, walau belum sepenuhnya bekerja.

Esok harinya, bapak itu mampir lagi diwarung kecil dipinggir jalan. Kali ini bapak itu membawakan nasi bungkus buatan istrinya dan menyerahkan nasi bungkus pada Mbong. Disuruhnya Mbong makan sebelum memulai pekerjaan. Sejak saat itu Mbong rajin bekerja dan mulai memperhatikan bila bapak itu mengajarinya berbagai hal mengenai perbaikan mobil.

Tidak sampai setahun Mbong membantu Bapak itu, dan dia mulai mencari pekerjaannya sendiri. Bapak itu tidak pernah bertemu Mbong lagi hingga kemarin….

Ibu Didit berkata kepada saya,”Kadang kita nggak tahu apa yang di alami seeorang, Rit. Ibu sudah curiga kalo mbong itu bukan malas tapi lapar. Terlalu lapar hingga tidak bertenaga untuk bekerja. Kalo ibu bilang ini ke bapak, dia cuma tertawa dan bilang mana mungkin orang selapar itu sampe nggak kuat kerja. Ternyata ada kan?”

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kumpulan Puisi dan Sajak

%d bloggers like this: