Kumpulan Puisi dan Sajak

Kami Pergi Malam-malam oleh WS Rendra

Posted on: September 1, 2010

Malaikat penjagaku mengetuk jendela
dari sorga sehati dengan daku
berdua satu tempaan.

Kami sama-sama menuruni malam
bulan terpancang kedinginan.

Malam dibungkam kabut tipis
sepinya seperti topeng yang gaib.
Dan di sini terpancar suara-suara yang paling murni
keras dan tajam seperti dinginnya tiang listrik.

Dunia, sorga, neraka
semua bicara di sini.

Kami sama-sama menuruni malam
sampai di satu lorong dibungai perempuan.
Perempuan-perempuan susu layu dirapikan
mata kuyu dibinarkan pulasan.

Mereka kuda-kuda yang dihalau dari padang subur
menerjunkan diri ke rimba-rimba
yang makin menggila oleh kegelapan.

Mereka yang dikutuki wanita gereja
dipalingkan dari harapan surga.
Dosa apa pada mereka?
Hai, nyonya-nyonya, dosa apa?
mereka mendapat kehitaman itu
waktu dipingsankan mata mereka.

Kita mulyakan almarhum bunga bangsa
dan mereka bunga-bunga hitam yang masih ada nyawa
begitu rendahkah mereka
di bawah tulang-belulang bunga bangsa?

Mereka bicara dalam kuyu mata mereka
mereka bicara dalam dusta lemah mereka
tapi wanita-wanita terhormat tidak tahu
mereka dijauhi harapan surga
dan timbul nafsu lelaki.

Malaikat penjaga merangkul daku
kami berlutut dan berkata: Haleluya!
karena kami lihat Tuhan menciumi kening mereka
kuda-kuda yang dihalau dari padang subur.
Dengan Kasih Sayang

Dengan kasih sayang
kita simpan bedil dan kelewang
punahlah gairah pada darah.

Jangan!
Jangan dibunuh para lintah darat
ciumlah mesra anak jadah tak berayah
dan sumbatkan jarimu pada mulut peletupan
kerna darah para bajak dan perompak
akan mudah mendidih oleh pelor.
Mereka bukan tapir atau badak
hatinya pun berurusan cinta kasih
seperti jendela-jendela terbuka bagi angin sejuk!

Kita yang seing kehabisan cinta untuk mereka
cuma membenci yang nampak rompak.
Hati tak bisa berpelukan dengan hati mereka.
Terlampau terbatas pada lahiriah masing pihak.
Lahiriah yang terlalu banyak meminta!

Terhadap sajak yang paling utopis
bacalah dengan senyuman yang sabar.

Jangan dibenci kaum pembunuh.
Jangan biarkan anak bayi mati sendiri.
Kere-kere jangan mengemis lagi.
Dan terhadap penjahat yang paling laknat
pandanglah dari jendela hati yang bersih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kumpulan Puisi dan Sajak

%d bloggers like this: